Kediri Technopark Logo

Menlu Singapura Rakit AI Sendiri Pakai Raspberry Pi, Jadi “Otak Kedua” untuk Diplomasi

A
Andyka
30 April 2026
5 menit Startup & Business
Menlu Singapura Rakit AI Sendiri Pakai Raspberry Pi, Jadi “Otak Kedua” untuk Diplomasi

Menteri Luar Negeri Singapura, Vivian Balakrishnan, menarik perhatian publik teknologi setelah membangun asisten AI pribadinya sendiri menggunakan NanoClaw dan Raspberry Pi 5. Sistem tersebut dirancang untuk membantu aktivitas diplomasi sehari-hari, mulai dari riset, merangkum informasi, hingga menyusun pidato. :contentReference[oaicite:0]{index=0}

Balakrishnan menyebut proyek ini sebagai “second brain” atau otak kedua bagi diplomat modern. Menariknya, seluruh sistem dibangun menggunakan kombinasi teknologi open-source yang berjalan secara lokal, sehingga lebih aman dan privat untuk menangani data sensitif pemerintahan.

AI Diplomasi Berbasis Raspberry Pi

Dalam eksperimennya, Balakrishnan menggunakan NanoClaw yang berjalan di Raspberry Pi 5, lalu menggabungkannya dengan konsep LLM Wiki dari Andrej Karpathy. Sistem AI tersebut dihubungkan dengan berbagai saluran komunikasi dan dilatih menggunakan artikel, pidato, hingga dokumen penting terkait diplomasi.

AI ini mampu melakukan berbagai tugas seperti:

  • Menjawab pertanyaan terkait isu diplomatik
  • Melakukan riset topik pembicaraan
  • Memberikan update harian
  • Membantu menyusun pidato
  • Merangkum informasi panjang menjadi poin penting

Balakrishnan bahkan mengaku sistem tersebut sudah menjadi bagian penting dalam pekerjaannya sehari-hari.

“Diplomat yang belajar bekerja dengan AI akan memiliki keunggulan,” ujarnya.

Dibangun dengan 10 Tools Berbeda

Berdasarkan penjelasan yang dibagikan di GitHub, AI ini memiliki arsitektur tiga lapis:

  1. Data mentah seperti artikel dan transkrip pidato
  2. Knowledge Graph untuk menyusun fakta dan relasi informasi
  3. Wiki Layer yang menampilkan informasi dalam format mudah dibaca

Untuk mewujudkan sistem tersebut, Balakrishnan menggabungkan berbagai tools seperti NanoClaw, Claude Agent SDK, Baileys untuk WhatsApp Web, hingga SQLite.

Hasilnya adalah AI dengan kemampuan manajemen pesan, penjadwalan tugas, penyimpanan memori, hingga antarmuka web yang dapat membantu aktivitas diplomasi secara real-time.

Bukti AI Tidak Harus Pakai Server Mahal

Yang membuat proyek ini menarik adalah penggunaan Raspberry Pi sebagai perangkat utama. Ini menunjukkan bahwa pengembangan AI personal tidak selalu membutuhkan server besar atau infrastruktur mahal.

Dengan kombinasi software open-source dan mini computer murah, seseorang kini bisa membangun AI assistant pribadi yang berjalan secara lokal dan lebih privat.

Konsep seperti ini diprediksi akan semakin populer di masa depan, terutama bagi profesional yang membutuhkan sistem pencarian informasi cepat dan personalisasi tinggi.

Masa Depan AI untuk Profesional

Inisiatif Menlu Singapura ini menjadi contoh bagaimana AI mulai digunakan sebagai alat produktivitas personal, bukan sekadar chatbot umum.

Di masa depan, kemungkinan akan semakin banyak profesional — mulai dari diplomat, pengacara, dokter, hingga pebisnis — yang memiliki AI assistant pribadi untuk membantu pekerjaan sehari-hari.

Singapura sendiri dikenal aktif dalam pengembangan teknologi AI dan digitalisasi pemerintahan, sehingga langkah ini dianggap sebagai gambaran awal bagaimana AI akan digunakan langsung oleh para pengambil kebijakan.

Artikel Terkait

Lihat Semua