China kembali memperkenalkan inovasi besar di bidang infrastruktur digital dengan mengoperasikan pusat data (data center) bawah laut pertama di dunia yang ditenagai energi angin lepas pantai.
Berbeda dengan data center konvensional di daratan, fasilitas ini memanfaatkan air laut sebagai sistem pendingin alami dan sebagian besar kebutuhan listriknya dipasok oleh turbin angin di sekitar lokasi. Langkah ini diharapkan mampu memenuhi lonjakan kebutuhan komputasi AI dengan konsumsi energi yang lebih efisien.
Memanfaatkan Laut Sebagai Pendingin Alami
Lokasi fasilitas berada di kawasan lepas pantai Lingang, Shanghai.
Server ditempatkan di dalam modul kedap air yang terendam di bawah permukaan laut. Panas dari perangkat komputasi dialirkan melalui sistem pertukaran panas tertutup sehingga air laut dapat membantu proses pendinginan tanpa bersentuhan langsung dengan perangkat elektronik.
Ditenagai Energi Angin Lepas Pantai
Selain memanfaatkan pendinginan alami, fasilitas ini memperoleh sebagian besar pasokan listrik dari pembangkit listrik tenaga angin (offshore wind farm).
Pendekatan tersebut memungkinkan:
- Konsumsi energi lebih rendah
- Emisi karbon lebih kecil
- Tidak membutuhkan air tawar untuk pendinginan
- Penggunaan lahan jauh lebih sedikit dibanding data center darat
Menurut pengembang, teknologi ini mampu menekan konsumsi listrik hingga sekitar 22,8 persen dibanding pusat data konvensional.
Dibangun untuk Era AI
Lonjakan penggunaan AI membuat kebutuhan terhadap pusat data meningkat drastis.
Fasilitas bawah laut ini dirancang untuk menangani:
- Pelatihan model AI
- Komputasi cloud
- Big data
- Layanan 5G
- High Performance Computing (HPC)
Tahap awal beroperasi pada kapasitas sekitar 2,3 MW, dengan target pengembangan hingga 24 MW di masa mendatang.
Masih Ada Tantangan
Meski menawarkan efisiensi tinggi, data center bawah laut tetap menghadapi sejumlah tantangan, seperti:
- Korosi akibat lingkungan laut
- Perawatan yang lebih kompleks
- Keandalan kabel bawah laut
- Pemantauan dampak lingkungan jangka panjang
Karena itu, seluruh modul dirancang memiliki tingkat ketahanan tinggi agar dapat beroperasi selama bertahun-tahun tanpa sering diangkat ke permukaan.
Fakta Penting
- China mengoperasikan data center bawah laut bertenaga angin pertama di dunia.
- Lokasinya berada di perairan dekat Lingang, Shanghai.
- Air laut dimanfaatkan sebagai sistem pendingin alami server.
- Konsumsi energi diklaim turun sekitar 22,8% dibanding data center konvensional.
- Kapasitas awal mencapai sekitar 2,3 MW dan ditargetkan berkembang hingga 24 MW.
- Infrastruktur ini dirancang untuk mendukung kebutuhan komputasi AI generasi berikutnya.
Masa Depan Infrastruktur AI yang Lebih Hijau
Meningkatnya kebutuhan komputasi AI membuat konsumsi energi data center terus melonjak di seluruh dunia. Dengan menggabungkan pendinginan alami laut dan energi angin lepas pantai, China memperkenalkan pendekatan baru yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Jika model ini terbukti andal dalam jangka panjang, konsep data center bawah laut berpotensi menjadi salah satu fondasi utama pembangunan infrastruktur AI global pada masa depan.